Rabu, 15 Januari 2014

CERPEN SENANDUNG MALAM

Diposting oleh HERA FASIRA ISRA di 06.48



Senandung malam
 Kejadian siang tadi membuat aku susah tidur. Malam ini aku ke taman dekat rumah yang ada di depan gerbang kompleks. Rintikan gerimis mengenai kulitku yang berwarna sawo matang, sedikit dingin tapi aku terus melanjutkan perjalananku dan berharap mala mini tak hujan.
Hampir tiapa hari aku mengunjungi taman ini. Taman yang tidak terlalu luas tapi disinilah aku menghabiskan waktu ketika aku sedang sedih. Kursi taman yang ada dibawah pohon besar yang entah pohon apa namanya menjadi tempat favoritku. Lampu taman yang menyala malam ini membuat suasana menjadi lengkap.
Tadi siang hubungan aku dengan seorang pria yang sangat aku cintai harus berakhir. Semua ini karena dia selingkuh dengan temanku sendiri. Sebenarnya aku tak ingin mengakhirinya tapi, semuanya harus kuterima meskipun ini tak adil bagiku. Aku pernah membaca sebuah buku jika kita mencintai seseorang kita harus bisa membahagiankannya meskipun kini kita tak bersamanya lagi.
Pria itu bernama Febrio. Panggilannya Rio. Dia adalah pria yang pertama kali membuatku jatuh cinta dan dari dialah aku belajar arti ketulusan. Pria yang mempunya karisma, berwibawa dan termasuk siswa teladan disekolah. Kami Satu sekolah tapi beda jurusan, aku jurusan IPS dan Dia jurusan IPA. Dulu, kami sering pulang sekolah bersama. Pernah suatu hari dijalan kami kehujanan, semua seragam sekolah dan tas kami basah. Berteduhpun percuma. Hari itu adalah hari yang paling indah, bahagia bersama orang yang sangat kusayang.
Semua tentangnya masih jelas terekam di benakku. Sampai aku berfikir “ Apakah Aku Bisa Melupakannya? “ entahlah, kuakan mencoba sekuatnya. “Tuhan, mengapa semuanya harus secepat ini? Aku sangat mencintainya, kembalikan dia padaku” kalimat itu selalu kuucapkan, mungkin sudah hamper duapuluh kali ku ucapkan ditaman ini.
Ransel yang berisi semua tentangnya kubuka perlahan, dengan sangat hati-hati. Aku tak tahu apakah aku akan sanggup melihatnya atau bahkan aku akan menangis. Barang pertama yang kupegang adalah bingkai foto. Foto kita berdua dengan raut wajah bahagia, tanpa ada fikiran untuk berpisah. Air mata ini jatuh mengenai bingkai foto itu. Ohh tuhan, aku tak sanggup melihat semuanya, sudah cukup bingkai foto itu.
Malam sudah larut. Angin ditaman ini semakin dingin kurasakan apalagi tadi sore hujan. Mata ini juga sudah merasakan kantuk. Tapi, niat untuk pulang kerumah tak ada. Aku masih betah dengan suasana taman yang sepi dan bintang yang bertaburan di langit. Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam kuhabiskan dengan mengenang kisah aku dan Rio. Tak terasa aku sudah 4 jam ditaman ini. Beberapa saat kemudian aku bangkit dan bergegas pulang kerumah. Tak lupa pula tas kupun kubawa. Perjalanan pulang aku hanya berfikir, aku harus bisa bangkit dan tak bisa terus-menerus tenggelam di masa lalu.
Jam berwarna ungu di meja belajarku sudah menujukkan pukul 23.00. sebelum aku tidur aku menulis di sebuah kertas “Harus Move On” dan kertas itu aku tempelkan di note wall ku. Malam ini cukup panjang kulalui seorang diri. Kupejamkan mata dan berharap aku bisa melupakannya jika aku sudah membuka mata esok pagi


---Terimakasih Sudah Membaca---
---Kritik & Sarannya Sangat Bermanfaat---

0 komentar:

Posting Komentar

 

Hera Fasira Isra Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review