Senandung
malam
Kejadian siang tadi membuat aku susah tidur.
Malam ini aku ke taman dekat rumah yang ada di depan gerbang kompleks. Rintikan
gerimis mengenai kulitku yang berwarna sawo matang, sedikit dingin tapi aku
terus melanjutkan perjalananku dan berharap mala mini tak hujan.
Hampir
tiapa hari aku mengunjungi taman ini. Taman yang tidak terlalu luas tapi
disinilah aku menghabiskan waktu ketika aku sedang sedih. Kursi taman yang ada
dibawah pohon besar yang entah pohon apa namanya menjadi tempat favoritku.
Lampu taman yang menyala malam ini membuat suasana menjadi lengkap.
Tadi
siang hubungan aku dengan seorang pria yang sangat aku cintai harus berakhir.
Semua ini karena dia selingkuh dengan temanku sendiri. Sebenarnya aku tak ingin
mengakhirinya tapi, semuanya harus kuterima meskipun ini tak adil bagiku. Aku
pernah membaca sebuah buku jika kita mencintai seseorang kita harus bisa
membahagiankannya meskipun kini kita tak bersamanya lagi.
Pria
itu bernama Febrio. Panggilannya Rio. Dia adalah pria yang pertama kali membuatku
jatuh cinta dan dari dialah aku belajar arti ketulusan. Pria yang mempunya
karisma, berwibawa dan termasuk siswa teladan disekolah. Kami Satu sekolah tapi
beda jurusan, aku jurusan IPS dan Dia jurusan IPA. Dulu, kami sering pulang
sekolah bersama. Pernah suatu hari dijalan kami kehujanan, semua seragam
sekolah dan tas kami basah. Berteduhpun percuma. Hari itu adalah hari yang
paling indah, bahagia bersama orang yang sangat kusayang.
Semua
tentangnya masih jelas terekam di benakku. Sampai aku berfikir “ Apakah Aku
Bisa Melupakannya? “ entahlah, kuakan mencoba sekuatnya. “Tuhan, mengapa
semuanya harus secepat ini? Aku sangat mencintainya, kembalikan dia padaku”
kalimat itu selalu kuucapkan, mungkin sudah hamper duapuluh kali ku ucapkan
ditaman ini.
Ransel
yang berisi semua tentangnya kubuka perlahan, dengan sangat hati-hati. Aku tak
tahu apakah aku akan sanggup melihatnya atau bahkan aku akan menangis. Barang
pertama yang kupegang adalah bingkai foto. Foto kita berdua dengan raut wajah
bahagia, tanpa ada fikiran untuk berpisah. Air mata ini jatuh mengenai bingkai
foto itu. Ohh tuhan, aku tak sanggup melihat semuanya, sudah cukup bingkai foto
itu.
Malam
sudah larut. Angin ditaman ini semakin dingin kurasakan apalagi tadi sore
hujan. Mata ini juga sudah merasakan kantuk. Tapi, niat untuk pulang kerumah
tak ada. Aku masih betah dengan suasana taman yang sepi dan bintang yang
bertaburan di langit. Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam
kuhabiskan dengan mengenang kisah aku dan Rio. Tak terasa aku sudah 4 jam
ditaman ini. Beberapa saat kemudian aku bangkit dan bergegas pulang kerumah.
Tak lupa pula tas kupun kubawa. Perjalanan pulang aku hanya berfikir, aku harus
bisa bangkit dan tak bisa terus-menerus tenggelam di masa lalu.
Jam
berwarna ungu di meja belajarku sudah menujukkan pukul 23.00. sebelum aku tidur
aku menulis di sebuah kertas “Harus Move On” dan kertas itu aku tempelkan di
note wall ku. Malam ini cukup panjang kulalui seorang diri. Kupejamkan mata dan
berharap aku bisa melupakannya jika aku sudah membuka mata esok pagi
---Terimakasih Sudah Membaca---
---Kritik & Sarannya Sangat Bermanfaat---
0 komentar:
Posting Komentar